UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^

FAKTA 10 PERINGATAN BUMI

Untuk peringatan pada diri yang sering alpa dengan keindahan dunia yang hanya palsu belaka. Sadarlah bahwa bumi senantiasa berkata-kata dengan manusia namun masih banyak lagi manusia yang lalai dan lupa.

Berkata Anas Bin Malik r. a; Sesungguhnya setiap hari bumi menyeru kepada manusia dengan sepuluh perkara;

1. Wahai anak Adam! Berjalanlah di atas perutku,tetapi ingatlah! Engkau akan dimasukkan ke
dalamnya kelak.

2. Engkau melakukan maksiat di atas belakangku,tetapi ingatlah! Engkau akan diazab di dalam perutku.

3. Engkau ketawa di atas perutku, tetapi ingatlah! Engkau akan menangis di dalam perutku.

4. Engkau bergembira di atas belakangku, tetapi ingatlah! Engkau akan kecewa di dalam perutku.

5. Engkau mengumpul harta di atas belakangku, tetapi ingatlah! Engkau akan menyesal di dalam perutku.

6. Engkau makan benda yang haram di atas belakangku, tetapi ingatlah! Engkau akan dimakan oleh ulat di dalam perutku.

7. Engkau angkuh di atas belakangku, tetapi ingatlah! Engkau akan dihina di dalam perutku.

8. Engkau berlari dengan riang di atas belakangku, tetapi ingatlah! Engkau akan jatuh di dalam perutku dalam keadaan duka cita.

9. Engkau hidup di dunia bersiramkan cahaya matahari, bulan dan bintang di belakangku, tetapi ingatlah! Engkau akan tinggal dalam kegelapan di dalam perutku.

10. Engkau hidup di atas belakangku beramai- ramai, tetapi ingatlah! Engkau akan keseorangan di dalam perutku

Semoga bermanfaat…
sumber spotlite trans 7

sejarah kabupaten SUMEDANG (jawa barat)

Kabupaten Sumedang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Sumedang, sekitar 45 km Timur Laut Kota Bandung. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di Utara, Kabupaten Majalengka di Timur, Kabupaten Garut di Selatan, Kabupaten Bandung di Barat Daya, serta Kabupaten Subang di Barat. Kabupaten Sumedang terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Sumedang, ibukota kabupaten ini, terletak sekitar 45 km dari Kota Bandung. Kota ini meliputi kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. Sumedang dilintasi jalur utama Bandung-Cirebon.
Bagian Barat Daya wilayah Kabupaten Sumedang merupakan kawasan perkembangan Kota Bandung. IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), sebelumnya bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri), serta Universitas Padjadjaran berlokasi di Kecamatan Jatinangor.
Sebagian besar wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah Utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.684 m), berada di Utara Sumedang.

Sejarah

Pada mulanya Kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan di bawah kekuasaan Raja Galuh. Didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).
Sumedang Larang mengalami masa kejayaan pada waktu dipimpin oleh Pangeran Angka Wijaya dan Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Selatan sampai dengan Samudera Hindia, wilayah Utara sampai Laut Jawa, wilayah Barat sampai dengan Cisadane, dan wilayah Timur sampai dengan Kali Pamali.
Kerajaan ini kemudian menjadi vazal Kesultanan Cirebon, dan selanjutnya berada di bawah kendali Kesultanan Mataram, di masa Sultan Agung. Pada masa Mataram inilah teknik persawahan diperkenalkan di tanah Pasundan dan menjadi awal istilah "gudang beras" untuk daerah antara Indramayu hingga Karawang/Bekasi. Dalam strategi penyerangan Sultan Agung ke Batavia wilayah Sumedang dijadikan wilayah penyedia logistik pangan. Selain itu, aksara Hanacaraka juga diperkenalkan di wilayah Pasundan pada masa ini, dan dikenal sebagai Cacarakan. Pusat kota Sumedang juga dirancang pada masa ini, mengikuti pola dasar kota-kota Mataraman lainnya. Sebelum Bandung dibangun pada abad ke-19, Sumedang adalah salah satu pusat budaya Pasundan yang penting.
Ketika Pakubuwono II harus memberikan konsesi kepada VOC, wilayah kekuasaan Sumedang diberikan kepada VOC, yang kemudian dipecah-pecah, sehingga wilayah Sumedang menjadi seperti yang sekarang ini.

Pemandangan dan air terjun di Sumedang (litografi berdasarkan lukisan oleh Abraham Salm, 1865-1872)

Pangeran Aria Soeriaatmadja (bupati Sumedang di tahun 1882 – 1919), juga dikenal dengan julukan "Pangeran Mekkah", karena wafat di Makkah
Sumedang mempunyai ciri khas sebagai kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat Alun-alun sebagai pusat yang dikelilingi Mesjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di tengah alun-alun terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang dibangun pada tahun 1922. Dibuat oleh Pangeran Siching dari Negeri Belanda dan dipersembahkan untuk Pangeran Aria Soeriaatmadja atas jasa-jasanya dalam mengembangkan Kabupaten Sumedang. Lingga diresmikan pada tanggal 22 Juli 1922 oleh Gubernur Jenderal Mr. Dr. Dirk Fock Sampai saat ini Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang. Lambang Kabupaten Sumedang, Lingga, diciptakan oleh R Maharmartanagara, putera seorang Bupati Bandung Rd Adipati Aria Martanegara, keturunan Sumedang. Lambang ini diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.
Hal-hal yang terkandung pada logo Lingga:
1. Perisai : Melambangkan jiwa kesatria utama, percaya kepada diri sendiri
2. Sisi Merah : Melambangkan semangat keberanian
3. Dasar Hijau : Melambangkan kesuburan pertanian
4. Bentuk Setengah Bola dan Bentuk Setengah Kubus Pada Lingga : Melambangkan bahwa manusia tidak ada yang sempurna
5. Sinar Matahari : Melambangkan semangat dalam mencapai kemajuan
6. Warna Kuning Emas : Melambangkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa
7. Sinar Yang ke 17 Angka : Melambangkan Angka Sakti tanggal Prroklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
8. Delapan Bentuk Pada Lingga : Lambang Bulan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
9. 19 Buah Batu Pada Lingga, 4 Buah Kaki Tembik dan 5 Buah Anak Tangga : Lambang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945
10. Tulisan Insun Medal : Tulisan Insun Medal erat kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung arti:
a. Berdasarkan Prabu Tadjimalela, seorang tokoh legendaris dalam sejarah Sumedang, Insun Medal berarti (Insun : Aku, Medal : Keluar)
b. Berdsarkan data di Museum Prabu Geusan Ulun; Insun berarti (Insun: Daya, Madangan: Terang) Kedua pengertian ini bersifat mistik.
c. Berdasarkan keterangan Prof. Anwas Adiwilaga, Insun Medal beasal dari kata Su dan Medang
(Su: bagus dan Medang: sejenis kayu yang bagus pada Jati yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang dulu), dan pengertian ini bersifat etimologi
Inilah sekedar Selayang Pandang Kabupaten Sumedang, yang pada hari Selasa 22 April 2008, genap berusia 430 tahun. Disini saya coba uraikan sejarah singkat Sumedang.
Menurut Bujangga Manik, di dekat Gunung Tampo Omas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon dalam masa pemerintahan Surawisesa.
Belum jelas, adakah hubungan antara Medang Kahiyangan dan Sumedang Larang. Namun pada sat Bujangga Manik memasuki Medang Kahiyangan, menurut versi lainnya, saat itu sudah terdapat kerajaan yang disebut Sumedanglarang.
Dalam Keropak 410 disbutkab, Pendiri Kerajaan Sumedang Larang tak lain adalah Praburesi Tadjimalela. Ia berkedudukan di Tembong Agung yang disebut Mandala Himbar Buana.
Masih belum jelas pula asa-usulnya tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tadjimalela adalah nama lain dari Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura (Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).
Sumber lain menjelaskan, baik Kitab Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi lisan yang masih hidup, disebut kan bahwa Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Guru Aji Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan Sribaduga Maharaja I. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar pinggiran Sungai Cimanuk.
Prabu Tajimalela masih memiliki sejumlah nama, antara lain: Praburesi Agung Cakrabuana, Batara Tuntang Buana, dan Aji Putih. Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: "Ari putrana Sang Dewa Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih."
Kehadiran Prabu Guru Haji Putih melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis sejak abad ke-8 oleh Sahyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan dan kemasyarakatan hingga berdirilah keajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang. Kerjaan Tembong Agung tersebut, menurut riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
Prabu Guru Haji Putih berputera Prabu Resi Tajimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Koropak 410 Tajimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340-1350) penguasa di Kawali dan tokoh Suryadewata, ayahada Batara Gunung Bitung di Majalengka.
Memang belum diperoleh keterangan sumber yang menyebut-nyebut siapa grangan istri Sang Praburesi Tajimalela. Namun demikian, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan Praburesi Tajimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu Agung.
Tahta kerajaan Sumedang Larang dari Prabu Tajimalela dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih dikenal dengan sebutan Gajah Agung yang berkedudukan di Cicanting.
Kisah awal raja ini memang mirip dengan kisah awal Kejaraan Mataram. Menurut versi Babat Tanah Jawi, antara Ki Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, KiAgeng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudia meminumnya. Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.
Demikian pula dalam naskah Layang Darmaraja, yangmengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan tahta kepemeimpinan dari Praburesi Tajimalela.
Dikisahkan, pada suatu ketika Prabu Tajimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Gung dan Gajah Agung. Prabu Tajimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang putranya ini yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.
"Adinda, adindalah kiranya yang lebih tepat menjadi raja," ujar Lembu Agung kepada adiknya. "Kakanda, sungguh tidak pantas adinda yang masih muda usia, bila harus menjadi raja. Kakandalah yang lebih tepat," jawab Gajah Agung. Setelah di antara kedua putranya, masing-masing saling menunjuk siapa di antara mereka yang pantas menjai raja, akhirnya Prabu Resi Tajimalela memetik buah kelapa muda lalu disimpannya kelapa tadi serta sebilah pedang.
Mereka berdua disuruh menungguinya. "Adinda, tolong jaga kelapa ini. Kakanda hendak pergi ke jamban dulu,"kata Lembu Agung seraya pergi meninggalkan Gajah Agung. Tiba-tiba sepeninggal Lembu Agung, Gajah Agung merasakan haus yang bukan kepalang.
Apa boleh buat, untuk menghilangkan dahaganya, Pabu Gajah Agung kemudian menupas kelapa itu dan diminumlah airnya. Karenanya, ketika Lembu Agung kembali lagi, Gajah Agung langsung menyampaikan permohonan maaf kepada Lembu Agung karena rasa bersalahnya telah meminum air kelapa yang semestinya dijaganya.
Semula Prabu Gajah Agung mengka, Prabu Lembu Agung akan memarahinya. Namun ternya, dengan kebesaran jwa Prabu Lembu Agung malah berkta: " Adinda, tampanya suratan takdir telah menentukan, dengan diminumnya air kelapa tadi oleh adinda, sudah barang tentu Adindalah yang sekarang terpilih menjadi raja," ucap Lembu Agung.
Singkat cerita, jadilah Prabu Gajah Agung meneruskan kepemimpinan Prabu Tajimalela, yang kemudian ia meninggalkan tempat menuju daerah di pinggiran Kali Cipeles untuk mendirikan kerajaan yang sekarang disebut Ciguling.
Kemudia ia bergelar Prabu Pagulingan. Sementara kepemimpinan Prabu Gajah Agung kemudian digantikan oleh putranya , Wirajaya, yang lebih dikenal Sunan Pagulingan. Dalam Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Bart Sunan Pagulingan berkedudukan di Cipameungpeuk.
Namun ada pula yang mengisahkan, kedudukan Kerajaan Sumedang Larang pada saat itu berada di Ciguling, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Yang jelas, ketiga raja Sumedang Larang yang pertama ini masing-masing berkedudukan di tempat yang berbeda-beda. Ini merpakan suatu gejala, bahwa kerajaan tersebut belum permanen yang dapat ditinggali turun temurun oleh para peberus pemegang kekuasaannya. Keadaan tersebut berlangsung sampai beberapa generasi berikutnya.
Putri Sulung Pagulingan bernama Ratu Ratnasih alias Ny Rajamantri diperistri Sribaduga Maharaja. Karena itu, adiknya bernama Martalaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa Sumedang yang keempat dengan gelar Suna Guling.
Sunan Guling digantikan oleh putranya bernama Tirta Kusumah atau Sunan Patuakan sbagai raja kelima Sumedang Larang. Kemudian, ia digantikan lagi oleh putri sulung bernama Sintawati alias Ny Mas Patuakan.
Antara Ibu dan anak ini mempunyai gelar yang sama yaitu Patuakan.
Ratu Sintawati berjodoh dengan Sunan Corenda, raja Talaga putera Ratu Simbar Kencana dari Kusumalaya putera Dewa Niskala. Dengan demikian, ia menjadi cucu menantu penguasa Galuh.
Sunan Corenda mempunyai dua permaisuri yakni Mayangsari putri Langlang Buana dari Kuningandan Sintawati dari Sumedang. Dari Mayangsari Sunan Corenda memperoleh puteri Bernama Ratu Wulansari alias Ratu Parung.
Berjodoh dengan Rangga Mantri alias Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umum Talaga), putera Mundung Surya Ageung. Tokoh ini putera Sribaduga. Sunan Parung Gangsa ditakllukan oleh Cirebon tahiun 1530 dan masuk Islam.
Dari Sintawati putri sulung Sunan Guling, Sunan Corenda mempunyai puteri bernama Satyasih, yang kemudian menjadi penguasa Sumedang dengan gelar Ratu Pucuk Umum. atu Pucuk Umum Menikah dengan Ki Gedeng Sumedang yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Santri. Pangeran ini adalah putera Pangeran Palakaran dari puteri Sindangkasih. Pangeran Palakaran putera Maulana Abdurahman alias Pangeran Panjunan.
Dengan perkawinan antara Ratu Satyasih dan Ki Gedeng Sumedang inilah agama Islam mulai menyebar di Sumedang pada tahun 1529.
Pangeran Santri dinobatkan sebagai penguasa Sumedang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka, atau kira-kira 21 Oktober 1530 M, tiga bula setelah penobatan Pangeran Santri.
Pada tanggal 12 bagian terang bulan Margasira tahun 1452 di Keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan "syukuran" untuk merayakan kemenangan Cirebon atas Galuh dan sekaligus pula merayakan penobatan Pangeran Santri.
Hal ini menunjukkan, bahwa Sumedang Larang telah masuk dalam lingkaran pengaruh Cirebon. Pangeran Santri adalah murid Susuhunan Jati. Pangeran Santri sebagai penguasa Sumedang pertama yang menganut Islam. Ia pula yang membangun Kutamaya sebagai Ibukota baru untuk pemerintahannya.
Dari perkawinannya dengan Ratu Pucuk Umum alias Ratu Inten Dewata, Pangeran Santri yang bergelar Pangeran Kusumahdinata I ini dikaruniai enam orang anak yaitu Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun), Kyai Rangga Haji, Kyai Demang Watang Walakung, Santowan Wirakusumah, yang melahirkan keturunan anak-cucu di Pagaden Subang, Santowan Cikeruh dan Santowan Awiluar.
Pangeran Santri wafat 2 Oktober 1579. Di antara putra-putri Pangeran Santri dari Ratu Inten Dewata (Pucuk Umum), yang melanjutkan pemerintahan di Sumedang Larang ialah Pangeran Angkawijaya bergelar Prabu Geusan Ulun. Menurut Babad, daerah kekuasaan Geusan Ulun dibatasi kali Cipamali di sebelah Timur, Cisadane di sebelah Barat, sedangkan di sebelah Selatan dan Utara di batasai laut.
Daerah kekuasaan Geusan Ulun dapat diisimak dari isi surat Rangga Gempol III yang dikirimkan kepada Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat ini dibuat hari Senin, 2 Rabi'ulawal tahun Je atau 4 Desember 1690, yang dibuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal 31 Januari 1691.
Dalam surat tadi, Ranggal Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumahdinata IV) menuntut agar kekuasannyadipulihkan kembali seperti kekuasaan buyutnya yaitu Geusan Ulun. Rangga Gempol mengungkapkan bahwa kekuasaan Geusan Ulun meliputi 44 penguasa daerah yang terdiri dari 22 kadagalante dan 18 umbul.
Ke-44 daerah di bawah kekuasaan Geusan Ulun meliputi:
I. Di Kabupaten Bandung
1. Timbanganten
2.Batulayang
3. Kahuripan
4. Tarogong
5. Curugagung
6. Ukur
7. Marunjung
8. Daerah Ngabei Astra Manggala
II. Di Kabupaten Parakanmuncang
1. Selacau
2. Daerah Ngabei Cucuk
3. Manabaya
4. Kadungora
5. Kandangwesi (Bungbulang)
6. Galunggung (Singaparna)
7. Sindangkasih
8. Cihaur
9. Taraju
III. Di Kabupaten Sukapura
1. Karang
2. Parung
3. Panembong
4. Batuwangi
5. Saung Watang (Mangureja)
6. Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju
7. Suci
8. Cipiniha
9. Mandala
10. Nagara (Pamungpeuk)
11. Cidamar
12. Parakan Tiga
13. Muara
14. Cisalak
15. Sukakerta
Berdasarkan data yang dikirimkan Rangga Gempol III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Batas di sebelah Yimur adalah Garis Cimanuk - Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
Di sebelah Barat garis Citarum - Cisokan. Batas Di sebelah Selatan laut Namun di sebelah Utara diperkirakan tidak meliputi wilayah yang telah dikuasai oleh Cirebon.
Masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun (1579-1601) bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.
Sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan Pajajaran mengutus empat Kandagalante untuk menyerahkan Mahkota serta menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yangpada dasarnya Kerajaan Sumedang Larang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus menjadi penerus Pajajaran.
Keempat orang bersaudara, senapati dan pembesar Pajajran yang diutus ke Sumedang tersebut yaitu Jaya Perkosa (Sanghyang Hawu); Wirajaya (Nagganan); Kondang Hapa; dan Pancar Buana (Embah Terong Peot).
Pustaka Kertabumi 1/2 memberitakan keempat bersaudara tersebut secara ringkas: "Sira Paniari deing Pangeran Geusan Ulun, Rukungsira rumaksa wadyabalad, sinangguhan niti kaprabunmuwang salwirnya" (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka membina Balatentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lain).
Jaya Perkosa adalah bekas senapati Pajajaran, sedangkan Batara Wiradijaya sesuai julukannya bekas Nangganan. Menurut Keropak 630, jabatan Nangganan lebih tinggi setingkat dari menteri, namun setingkat lebih rendah dari Mangkubumi.
Di samping itu, menurut tradisi hari pasaran Legi (Manis), merupakan saat baik untuk memulainya suatu upaya besar dan sangat penting. Peristiwa itu dianggap sangat penting karena pengukuhan Geusan Ulun "Nyakrawati" atau Nalendra merupakan semacam proklamasi kebebasan Sumedang yang mensejajarkan diri diri dwngan Kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting lain yang terkandung dalam peristiwa itu adalah pernyataan bahwa Sumedsang Larang menjadi ahli waris serta penerus dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, di Bumi Parahyangan.
Mahkota dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh senapati Jaya Perkosa dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun merupakan bukti legalisasi kebesaran Sumedang Larang.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah baik yang tertulis maupun babad/cerita rakyat, maka penetapan Hari Jadi Sumedang ditetapkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sejarah.
Serangan laskar gabungan Banten, Pakungwati, Demak, dan Angke pada abad XVI ke Pajajran, merupakan peristiwa yangmembuat Kerajaan Pajajaran Runtag (runtuh).
Berakhirnya Pajajran pada waktu itu, tidak menyeret Sumedang Larang dibawah kepemimpinan Pangeran Santri ikut runtuh pula. Soalnya, sebagian rakyat Sumedang Larang pada itu sudah memeluk Agama Islam. Justru dengan berakhirnya masa kekuasaan Pajajaran, Sumedang Larang kian berkembang.
Penetapan Hari Jadi Kabupaten Sumedang erat kaitannya dengan peristiwa di atas. Terdapat tiga sumber sejarah yang dijadikan pegangan dalam menentukan Hari Jadi Kabupaten Sumedang:
Pertama : Kitab Waruga Jagat, yang disusun Mas Ngabehi Perana tahun 117 M. Kendati tak begitu lengkap isinya, namun sangat membantu dalam upaya mencari tanggal tepat untuk dijadikan pegangan/penentuan Hari Jadi Sumedang."Pajajaran Merad Kang Merad Ing Dina Selasa Ping 14 Wulan Syafar Tahun Jim Akhir" artinya: Kerajaan Pajajaran runtuh pada 14 Syafar tahun JimAkhir.
Kedua : Buku Rucatan Sejarah yang disusun Dr R Asikin Widjayakusumah yang menyertakan antara lain: Pangeran Geusan Ulun Jumeneng Nalendra (harita teu kabawa kasasaha) di Sumedang Larang sbada burak Pajajaran. Artinya, Pangeran Geusan Ulun menjadi raja yang berdaulat di Sumedang Larang setelah Kerajaan Pajajaran berakhir.
Tiga : Dibuat Prof Dr Husein Djajadiningrat berjudul : Critise Beshuocing van de Sejarah Banten. Desertasi ini antara lain menyebutkan srangan tentara Islam ke Ibukota Pajajaran terjadi pada tahun 1579, tepatnya Ahad 1 Muharam tahun Alif.
Mengacu pada ketiga sumber sejarah tadi, maka dalam disksi untuk menentukan Hari Jadi Sumedang yang dihadiri para sejarawan masing-masing Drs Said Raksakusumah; Drs Amir Sutaarga; Drs Saleh Dana Sasmita; Dr Atja dan Drs A Gurfani, berhasil menyimpulkan bahw 14 Syafar Tahun Jim Akhir itu jatuh pada tahun 1578 Masehi, bukan tahun 1579, tepatnya 22 April 1578.
Atas dasar itu DPRD Daerah Tingkat II Sumedang waktu itu, dalam Keputusan Nomor 1/Kprs/DPRD/Smd/1973, Tanggal 8 Oktober 1973, menetapkan tanggal 22 Apri 1578 sebagai jadi Jadi Kabupaten Sumedang.

 kuliner

Tahu Sumedang.
 Tahu Sumedang
Makanan ini adalah makanan khusus khas kota Sumedang yang terbuat dari hasil olahan kacang kedelai. Hampir semua warung makan di Sumedang menyediakan panganan khas ini, bahkan pedagang asongan yang ada di bus-bus maupun persimpangan jalan juga tidak sedikit yang menjajakanya.


Ubi Cilembu.
Ubi Cilembu













Ubi ini sangat manis dan pulen, berbeda dengan ubu kebanyakan.
Panganan ini banyak terdapat di sekitar kecamatan Tanjungsari, atau apabila anda datang dari arah Bandung, lokasinya antara Jatinangor dan Cadas Pangeran. Cara penyajian ubi ini berbeda dengan ubi lain yaitu dengan dimasak menggunakan oven.

Sawo Citali.

Buah ini banyak terdapat di desa sukatali kecamatan Situraja. Sawo citali uga memiliki kekhasan baik dari rasa, warna dan bentuknya jika dibandingkan dengan buah serupa yang lain.

sejarah kab,SUKABUMI (jawa barat)

Kabupaten Sukabumi, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Palabuhanratu. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor di utara, Kabupaten Cianjur di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Lebak di barat

Sejarah

Ada yang mengatakan bahwa nama Sukabumi berasal dari bahasa Sunda, yaitu Suka-Bumen, yang bermakna bahwa pada kawasan yang memiliki udara sejuk dan nyaman ini membuat orang-orang suka bumen-bumen atau menetap. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah bahwa nama "Sukabumi" berasal dari bahasa Sansekerta suka, "kesenangan, kebahagiaan, kesukaan" dan bhumi, "bumi". Jadi "Sukabumi" artinya "bumi kesukaan".
Sebelum berstatus kota, Sukabumi hanyalah dusun kecil bernama "Goenoeng Parang" (sekarang Kelurahan Gunungparang) lalu berkembang menjadi beberapa desa seperti Cikole atau Parungseah. Lalu pada 1 April 1914, pemerintah Hindia Belanda menjadikan kota Sukabumi sebagai Burgerlijk Bestuur dengan status Gemeente (Kotapraja) dengan alasan bahwa di kota ini banyak berdiam orang-orang Belanda dan Eropa pemilik perkebunan-perkebunan yang berada di daerah Kabupaten Sukabumi bagian selatan yang harus mendapatkan pengurusan dan pelayanan yang istimewa.
Selanjutnya pada 1 Mei 1926, Mr. G.F. Rambonnet diangkat menjadi Burgemeester. Pada masa inilah dibangun Stasiun Kereta Api, Mesjid Agung, gereja Kristen; Pantekosta; Katholik; Bethel; HKBP; Pasundan, pembangkit listrik Ubrug; centrale (Gardu Induk) Cipoho, Sekolah Polisi Gubermen yang berdekatan dengan lembaga pendidikan Islam tradisionil Gunung Puyuh.
Nama Soekaboemi sebenarnya telah ada sebelum hari jadi Kota Sukabumi yaitu 13 Januari 1815. Kota yang saat ini berluas 48,15 km2 ini mendapatkan namanya dari seorang ahli bedah bernama Dr. Andries de Wilde menamakan Soekaboemi. Perlu diketahu Andris de Wilde ini juga adalah seorang Preanger Planter (kopi dan teh) yg bermukim di Bandoeng, dimana eks rumah tinggal dan gudang kopinya sekarang dijadikan Kantor Pemkot Bandung.
Awalnya ia mengirim surat kepada kawannnya Pieter Englhard mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk mengganti nama Cikole (berdasar nama sungai yg membelah kota Sukabumi) dengan nama Soekaboemi 13 Januari 1815. Sejak itulah Cikole resmi menjadi Soekaboemi. Namun, bukan berarti hari jadi Kota Sukabumi jatuh pada tanggal tersebut. Ceritanya memang tidak singkat, bermula dari komoditas kopi yang banyak dibutuhkan VOC, Van Rie Beek dan Zwadecroon berusaha mengembangkan lebih luas tanaman kopi di sekitar Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Tahun 1709 Gubernur Van Riebek mengadakan inspeksi ke kebun kopi di Cibalagung (Bogor), Cianjur, Jogjogan, Pondok Kopo, dan Gunung Guruh Sukabumi. Inilah salah satu alasan dibangunnya jalur lintasan kereta-api yg menghubungkan Soekaboemi dengan Buitenzorg dan Batavia di bagian barat dan Tjiandjoer (ibukota Priangan) dan Bandoeng di timur. Saat itu, de Wilde adalah pembantu pribadi Gubernur Jenderal Daendels dan dikenal sebagai tuan tanah di Jasinga Bogor.
Pada 25 Januari 1813, ia membeli tanah di Sukabumi yang luasnya lima per duabelas bagian di seluruh tanah yang ada di Sukabumi seharga 58 ribu ringgit Spanyol. Tanah tersebut berbatasan dengan Lereng Gunung Gede Pangrango di sebelah utara, Sungai Cimandiri di bagian selatan, lalu di arah barat berbatasan langsung dengan Keresidenan Jakarta dan Banten dan di sebelah Timur dengan Sungai Cikupa. Pada tanggal yang sama 354 tahun yang lalu, Belanda bangga memenangkan perang melawan Spanyol.Setelah Mr. G.F. Rambonnet memerintah ada tiga “Burgemeester” sebagai penggantinya yaitu Mr. W.M. Ouwekerk, Mr. A.L.A. van Unen dan Mr. W.J.Ph. van Waning.

Geografi
Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106° 45’ 50’’ Bujur Timur dan 106° 45’ 10’’ Bujur Timur, 6° 49’ 29’’ Lintang Selatan dan 6° 50’ 44’’ Lintang Selatan, terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang ketinggiannya 584 m diatas permukaan laut, dengan suhu maksimum 29 °C.
Kota ini terletak 120 km sebelah selatan Jakarta dan 96 km sebelah barat Bandung, dan wilayahnya berada di sekitar timur laut wilayah Kabupaten Sukabumi serta secara administratif wilayah kota ini seluruhnya berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.

bahaya facebook


sumber mozaik islam

fakta dajjal Muncul Dari Kerajaan Jin di Segitiga Bermuda


 

Lokasi segitiga bermuda


Dalam buku tulisan Muhammad Isa Dawud (MID) yang bertajuk Dajjal Akan Muncul Dari Kerajaan Jin di Segitiga Bermuda, perihal Dajjal atau Samirah telah dikemukakan dengan hujah yang begitu dramatik sekali. Huraian, fakta dan hujah MID dalam bahagian asal usul Dajjal amat baik sekali dan terdapat banyak fakta-fakta terbaru yang dikemukakan. Antara fakta yang paling besar hikmahnya ialah cerita Samiri membina patung anak lembu. Dahulunya kita semua kurang ambil kisah tentang kisah Samiri, kita cuba mengetahuinya sebagai penyesat Bani Israel. Tetapi kini, rahsia penonjolan nama Samiri dalam Al-Quran sudah TERBONGKAR, Samiri adalah ad-Dajjal dan Dajjal adalah Samiri. Cuma nama Dajjal adalah sebagai gelaran dan Samiri adalah nama sebenar.

Pada Bab 1, buku ini menampilkan tajuk Dajjal : Kelahiran, Pertumbuhan dan Kehidupan Khasnya Yang Membentang Luas. MID semasa memulakan bab ini berkali-kali memperingati para pembaca akan kesan pendedahannya itu.

Beliau sedar bahawa apa yang didedahkan akan memporak-perandakan pemikiran-pemikiran jumud sesetengah umat Islam tentang Dajjal. Beliau juga sedar bahawa pendedahan yang bakal dilakukan akan menimbulkan kesangsian yang mendalam. Namun semua penjelasan itu mungkin sedikit mententeramkan keadaan apabila ada bukti-bukti bertulis dari manuskrip-manuskrip kuno yang telah dibuat kajian.

Bab ini mendedahkan sejarah jelas akan hadith yang bermaksud berikut:
“Ayah dan ibu Dajjal itu melalui perkahwinan selama tiga puluh tahun tanpa melahirkan seorang anak pun. Kemudian lahirlah dari mereka seorang anak laki-laki yang buta sebelah matanya. Ia menjadi seorang yang paling merbahaya dan paling sedikit manfaatnya, kedua matanya tertidur tetapi hatinya tetap terjaga.”

(Riwayat Imam Ahmad)
Daripada hadith di atas Muhammad Isa Dawud (MID) menjelaskan secara terperinci akan keluarga Dajjal yang berasal dari kampung bernama Samirah di Palestin. Kampung ini kemudian harinya akan menjadi pusat pemerintahan empayar Islam pada zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman a.s.

Dalam pendedahan itu, MID mengisahkan kelahiran Dajjal bermula dari bagaimana benih ibu dan bapanya bercantum. Menurut MID, ibu bapa Dajjal adalah dari baka anak luar nikah yang lahir dari kesedudukan haram sesama mahram.

 

Mereka berdua juga penyembah patung lembu yang ketika itu agama berhala bagi bangsa Yahudi di Palestin sebelum kelahiran Musa. Ibu bapa Dajjal telah melakukan penyembahan dan berdoa kepada patung lembu mereka untuk mendapatkan anak.
Setelah 30 tahun maka lahirlah seorang anak yang diberi nama Samiri. Nama itu diberi sempena nama kota Samirah tempat tinggal mereka.
Setelah sampai beberapa ketika, Allah menurunkan bala ke atas penduduk kampung itu. Semua penduduknya yang engkar ajaran Nabi Ibrahim telah dimusnahkan oleh para malaikat.
Namun demikian, Allah mengarahkan Jibril a.s. menyelamatkan anak kecil bernama Samiri dan diletakkannya di sebuah pulau terpencil di laut Syam. Di pulau itu, seekor binatang besar bernama Al-Jasasah bersama Jibril memelihara Samiri atas arahan Allah SWT. Samiri tinggal di pulau itu dan belajar ilmu-ilmu Tauhid dari AL-Jasasah. Kisah binatang itu ada dijelaskan dalam sebuah hadith yang mengisahkan Tamim Ad-Dhari terdampar di sebuah pulau dan berjumpa binatang berbulu.

Sehingga suatu waktu, Samiri keluar merantau ke luar dari pulau dengan menumpang sebuah kapal yang kebetulan berlabuh di pulau itu. Maka sejak itu, Samiri mula mengenal masyarakat dunia.
Seratus tahun selepas itu, maka lahirlah Nabi Musa di Mesir. Samiri berangkat ke Mesir kerana terdengar kehebatan Firaun dan dakwah Nabi Musa. Samiri yang buta sebelah itu bekerja sebagai khadam di sana. Dia melihat segala perkara yang berlaku di Mesir.


 

Hatta dia juga mengikut bersama pengikut-pengikut Nabi Musa lari ke Laut Nil untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentera Firaun. Nabi Musa juga tidak tahu bahawa salah seorang pengikut yang menyertai rombongan mereka itu ialah Samiri.
Semasa Nabi Musa meninggalkan Bani Israel bersama Nabi Harun, maka disitulah terjadinya suatu peristiwa berpaling tadah kaum Bani Israel. Samiri telah mempengaruhi Bani Israel agar kembali menyembah berhala dengan membina patung lembu betina. Kisah ini telah pun dicatatkan dalam al-Quran surah Ibrahim.



 

Menurut Muhammad Isa Dawud, Dajjal melewati pelbagai negeri yang mempunyai sempadan pantai dan laut. Perjalanan Dajjal merentasi pelbagai negeri ini adalah untuk mencari penduduk-penduduk yang dirasakan boleh menerimanya sebagai Tuhan atau setidak-tidaknya Anak Tuhan. Itulah nafsu tertinggi bagi dirinya dalam mencari kepuasan di dunia yang telah ia kembarai sejak sekian lama.

Bab 3 dalam buku ini juga menyentuh mengenai Dajjal yang telah menemui suatu kaum yang dirasakan nya mampu bagi ia menyamar diri sebagai tuhan mereka. Kaum ini ditemui olehnya di sebuah daerah di Amerika Selatan.


 

Namun begitu, ia masih tidak puas. Dajjal mahu kekuasaannya dianggap sebagai tuhan lebih hebat dari Firaun yang pernah dilihatnya. Maka Dajjal meneruskan perlajanan ke seluruh kawasan khususnya di pantai Miami sekitar abad ke-8 M. Ideologi penyembahan dirinya sebagai tuhan disebar seluas-luasnya. Penduduk amat percaya kerana kebijaksanaan dan ilmu yang dimilikinya.

 

Salah satu perkara penting dalam bab ini ialah ia menjelaskan tentang berlakunya penemuan Dajjal terhadap kawasan Segitiga Bermuda yang didiami oleh Iblis. Menurut Muhammad Isa Dawud, di sinilah bermulanya semua perencanaan konspirasi seluruh dunia.

Dalam Bab 3 yang bertajuk Benteng Dajjal Di Segitiga Bermuda Dan Masalah Mesir, MID memulakan penulisannya dengan al-Baqarah, yang bermaksud; bicaranya dengan memetik ayat 30 dari surah

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di (muka) bumi,” Muhammad Isa Dawud cuba menyimpulkan mengapa Dajjal memilih Segitiga Bermuda?. Pada penyelidikan beliau, Dajjal memilih menetap di air kerana Dajjal sudah mahir akan selok-belok air sejak sekian lamanya. Tambahan pula, si laknat itu memang tinggal dan membesar di pulau kecil yang jauh terpencil dari tanah besar.


Dajjal dilihat berjaya membina satu penempatan khusus olehnya walaupun tempat yang dipilih itu sudah pun dipelopori oleh Iblis laknatullah. Muhammad Isa Dawud percaya Dajjal membina penempatan yang penuh saintifik diluar jangkaan kemampuan pemikiran manusia. Proses pembinaan itu menurutnya telah dibantu oleh jin dan syaitan sendiri. Menurut beberapa manuskrip kuno Yahudi, yang masih disimpan terun-temurun oleh beberapa buah keluarga Yahudi, ketika berlakunya kejaran Firaun dan tenteranya keatas pengikut-pengikut Nabi Musa as, Samiri yang turut sama berada dalam kumpulan itu telah terlihat 'lukisan-lukisan aneh' yang berada didalam Laut Nil. Lukisan-lukisan aneh itu dipercayai sebagai lukisan peninggalan bangsa-bangsa jin yang telah dimusnahkan sebelum wujudnya manusia di muka bumi ini. Bermula dari situlah, Dajjal sudah mengenali suatu bangsa yang mampu memberinya bantuan yang tidak mampu diberi oleh manusia biasa.

Namun ada sesuatu yang menarik tentang pandangan MID mengenai proses bantuan dari jin dan syaitan ini. Menurutnya, sejauh mana pun pertolongan yang diberi oleh syaitan dan jin, ‘pertolongan’ itu tidak mungkin ‘melampaui’ permohonan Nabi Sulaiman a.s. Apakah permohonan Nabi Sulaiman a.s. itu?
Permohonan baginda dinyatakan secara jelas dalam al-Quran surah as-Shod, ayat 35.

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku, berilah aku kerajaan (kekuasaan) yang tidak layak (dimiliki) seseorang sesudahku …”

Sumber :

arti warna pink valentine day menurut pandangan islam



Perayaan Valentines day bagian syiar Nasrani

Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Lalu Bagaimana islam memandang Valentine ?

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.

Perayaan Valentines Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani
Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia , yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.
Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa.

Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.
Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

Valentins Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.
Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentines Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentines Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.

Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Virus Pink Valentine’s day bahkan sudah menjadi epidemik dinegara negara Islam Arab

Valentine Berasal dari Budaya Syirik.

Ken Swiger dalam artikelnya Should Biblical Christians Observe It? mengatakan, Kata Valentine berasal dari bahasa Latin yang berarti, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi to be my Valentine, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi Sang Maha Kuasa. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si Cupid (bayi bersayap dengan panah) itu adalah putra Nimrod the hunter dewa matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.



Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentines Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra: 32)

Valentine ternyata sudah sangat melekat di Indonesia



sumber

Distorsi Sejarah Hari Valentine

Antara Festival Lupercalia dan Saint Valentine



Lupercalia adalah sebuah festival yang diselenggarakan di zaman Roma kuno setiap tanggal 15 Februari. Festival ini untuk menghormati dewa Faunus (Pan bagi bangsa Yunani), Lupercus (Dewa Kesuburan), dan Romulus. Meski pada mulanya Lupercalia adalah ritual agama pagan untuk kesuburan pertanian, dari waktu ke waktu, festival itu menjadi ajang suka-suka dan pesta seks (sexual horseplay).

Lupercalia diselenggarakan untuk menghilangkan seluruh penyakit dan penderitaan sebelum musim semi datang. Berdasarkan kalendar kuno bangsa Roma, musim dingin berakhir pada pertengahan Februari, saat Lupercalia, dan musim semi sebagai pertanda awal baru, telah tiba. Para petani berdoa untuk keberhasilan panen dan kesehatan ternak-ternak yang baru lahir agar tidak diganggu serigala.

 

Namun sebagian lainnya, tidak berhenti pada sekedar berdo’a untuk pertanian dan ternak mereka, justru adanya kekuatan suci yang dapat dimohon agar menganugerahi mereka dengan keberuntungan, kesehatan dan kesuburan. Penekanan pada kesuburan mendudukan kaum wanita secara signifikan. Ketidaksuburan atau kemandulan dianggap sebagai penyakit dan kutukan, maka para wanita memohon saat festival Lupercalia agar dianugerahi anak-anak dan kemudahan dalam melahirkan. Ketika mendapati penyakit yang sukar disembuhkan, dilakukan do’a pada para dewa untuk membersihkan mereka dari penyakit dan kutukan. Dalam kepercayaan Roma, pemurnian diperoleh melalui ritual pencambukan, para wanita yang ingin hamil dan mudah melahirkan meminta pemurnian dari seorang pendeta, lalu mereka dicambuki.

Seremoni pertama dilakukan di Lupercal, sebuah gua dimana Romulus dan Remus – legenda pendiri kota Roma, dikisahkan diasuh oleh seekor serigala betina saat keduanya bayi. Di gua itu, dilakukan upacara kurban binatang dan pesta yang panjang, biasanya hewan yang dikurbankan adalah kambing atau anjing muda sebagai simbol hasrat seks yang tinggi. Dua pemuda keturunan bangsawan dihadapkan pada pimpinan festival Lupercalia, Luperci. Kening kedua pemuda disentuh dengan pedang yang dicelupkan kedalam darah hewan kurban. Luperci lainnya menggosok cucuran darah pada pedang dengan wool yang telah dicelupkan ke dalam susu. Seremoni ini mungkin simbolisasi pemurnian gembala. Setelah upacara kurban selesai, Luperci mengambil daging lalu memakannya dengan banyak anggur.

Setelah itu para pendeta meninggalkan gua, mereka berlari mengitari tujuh bukit di Roma hanya mengenakan celana dalam yang terbuat dari tujuh lembar kulit kambing yang dikurbankan sebelumnya. Berlari sambil mengayun-ayunkan cemeti, pendeta memurnikan apa saja dan siapa pun yang dilaluinya. Kaum wanita berbaris sepanjang jalan menyongsong pendeta yang tengah berlari, mengasongkan tangan atau memalangkan badan ke arah pendeta untuk menerima ayunan cemeti dari kulit hewan kurban saat melewati mereka.

Tentu saja, kesuburan tidak berarti tanpa seks, inilah fokus festival Lupercalia bagi rata-rata bangsa Roma. Sebuah kesempatan yang popular dimana aturan dan etika sosial bisa diperlonggar, pria dan wanita tanpa malu-malu bercumbu dan berhubungan seks yang cukup kasar.

Pesta seks ramai-ramai (orgy) dalam festival Lupercalia

Kaitan antara pertengahan Februari dengan cinta dan kesuburan bukanlah hal baru dalam calendar kuno pagan. Dalam kalender Athena kuno, periode antara medio Januari hingga pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang menandakan saat suci pernikahan Dewa Zeus dengan Hera.

Di era Romawi Gaul, sebuah kebiasaan Lupercalia dimulai, yang bagiannya bertahan hingga hari ini. Wanita-wanita muda menuliskan namanya pada sebuah tablet dari tanah liat, lalu disimpan dalam guci. Setelah itu, pemuda mengambil secara acak nama-nama wanita dari dalam guci, lalu mereka berpasang-pasangan (Love Lotteries). Setiap gadis yang namanya terambil, harus melayani pemuda pasangannya hingga festival Lupercalia tahun depan. Diyakini, pada abad pertengahan, di hari Valentine seorang penggemar rahasia mengirimkan pesan tak bernama pada pujaan hatinya. Kebiasaan ini yang saat ini dianggap sebagai “sending a Valentine.”

Kaisar Augustus menghidupkan kembali Lupercalia semata demi kepentingan politik dan secara radikal merubah tata cara perayaannya. Saat tingkat kelahiran di Roma menurun tajam, imperium Romawi melihat hal itu masalah serius mengingat mereka butuh regenerasi untuk pasukannya di perbatasan terjauh. Augustus menyalahkan penurunan angka kelahiran pada wanita masih menggunakan kontrasepsi, sesuatu yang ditolak mentah-mentah oleh Augustus. Lalu Kaisar merubah fokus perhatian Lupercalia pada wanita-wanita yang dianggap mandul, dimana sebelumnya kaum hawa berbaris di pinggir jalan menanti disucikan, Augustus menjadikan hal itu pertunjukkan publik. Mungkin idenya untuk mempermalukan wanita mandul yang maju untuk dicambuk. Kebijakan itu membuat wanita Roma tidak antusias lagi merayakan Lupercalia, termasuk kaum adam.

Lupercalia adalah satu diantara ratusan festival Roma dan tata cara perayaannya pun berubah dari abad ke abad. Gambaran Lueprcalia terlihat dari beberapa karya seni yang masih bertahan, dua patung batu dimana salah satunya lebih tua 150 tahun dari yang lain. patung pertama menunjukkan seorang wanita perlahan melucuti bajunya selagi pendeta setengah telanjang dengan baju dari kulit hewan kurban. Patung kedua menggambarkan seorang wanita dilucuti pakaiannya dengan paksa oleh dua orang pria, sebelum pendeta. Meski detil dari prosesi dan role-playing kedua patung itu belum didapatkan, minat pada festival Lupercalia tidak pernah surut. Bahkan, bangsa Roma mungkin memandang Lupercalia sama seperti anak-anak saat ini memandang Halloween : saat untuk bersenang-senang dan bermain peran, sekalipun memainkan peran yang kasar.

Saat Roma menjadi sentral ajaran Kristen, khususnya Katolik, gereja pun menolak seluruh festival-festival pagan. Meskipun begitu, upaya gereja hanya berhasil sebagian. Rakyat bersikeras merayakan Lupercalia, maka diperlukan substitusi yang merupakan kombinasi antara ajaran Kristen dengan budaya pagan Lupercalia. Disinilah munculnya hari Saint Valentine sebagai kemasan baru festival Lupercalia kuno. Walaupun ritual-ritual Kristiani telah banyak dimasukkan dalam hari Valentine, jejak-jeka Lupercalia masih bisa ditemukan hingga hari ini. February, bulan Lupercalia, dinamai dari februa – istilah Latin yang menggambarkan apapun yang digunakan untuk “pemurnian”, termasuk kulit kambing kurban. Undian cinta (Love Lotteries) peninggalan budaya kuno Roma Gaul, kini berganti jadi kartu Valentine. Bahkan, Cupid tetap menjadi simbol Valentine, meski diketahui bahwa Cupid merupakan salah satu dewa dalam keyakinan pagan Roma kuno. Namun pada abad IV M, petinggi gereja Katolik merevisi imej dan reputasi Cupid. Kini Cupid dalam tradisi Roma (disebut juga Eros (birahi) dalam bahasa Yunani) berubah memiliki sepasang sayap mungil yang menandakan bahwa Cupid adalah malaikat cinta. Gereja berupaya menghapus jejak-jejak pagan dalam Cupid agar lebih terlihat “Kristiani.”

Validitas Hari Valentine

Pada tahun 496 M, Paus Gelasius menghapuskan festival Lupercalia dari kalender Gereja karena dianggap warisan berhala dan amoral. Sebagai gantinya, Sri Paus menisbahkan hari Valentine pada tanggal 14 Februari sebagai penghormatan pada orang-prang suci (santa/saint). Gereja memutuskan menggunakan tradisi undian cinta (Love Lotteries) pda hari Valentine sebagai bentuk cinta pada para Santa. Seseorang mengambil secara acak nama-nama orang suci dalam kotak, dan untuk tahun berikutnya ia berusaha menirukan kehidupan serta perilaku orang suci yang namanya ia ambil.

Masih terdapat perdebatan sekitar siapa sebenarnya Saint Valentine. Setidaknya terdapat tiga nama Saint Valentine yang tersebut dalam daftar para martir tanggal 14 Februari :
Seorang pendeta di Roma yang disiksa dan tewas di abad ke-3 Masehi. Jenazahnya dikubur di Via Flaminia Italia.
Seorang Uskup di Interamna (Terni), juga disiksa karena keimanannya lalu dikubur di Via Flaminia, namun berbeda lokasi dengan uskup pertama.
Seorang martir Kristen di Afrika Utara, yang sedikit sekali data tentangnya.

Saint Valentine. Tokoh yang masih belum valid ada/tidak.

Legenda uskup dari Interamna dijadikan basis penobatan orang-orang suci di era modern. Dia adalah seorang martir awal Kristen yang hidup di utara Itali pada abad ke-3 dan menjalani hukuman mati tanggal 14 Februari tahun 270 SM atas perintah Kaisar Claudius II karena menolak menanggalkan iman Kristen. Namun, banyak pakar sejarah meyakini bahwa Saint Valentine dari Terni dan uskup martir dari Roma adalah orang yang sama.

Kota Roma era Claudius sangat berbahaya bagi orang Kristen waktu itu. Saint Valentine dipercaya sebagai pendeta sekaligus pimpinan gerakan bawah tanah umat Kristiani menghadapi tirani Kaisar. Banyak pendeta yang ditangkap, dipenjara dan dieksekusi. Valentine diyakini adalah pelanjut missi pendeta-pendeta terdahulu hingga akhir diapun ditangkap.

Konon, dalam penjara Saint Valentine mampu mengobati putri seorana sipir yang mengalami kebutaan, malangnya Claudius II sangat geram setelah tahu hal itu. Kaisar lalu memerintahkan eksekusi brutal pada Saint Valentine dengan dipalu hingga mati lalu dipenggal. Menjelang penantian eksekutor, Saint Valentine mengirimkan secarik surat pada gadis dan menuliskan bahwa ia sangat mencintainya. Saint menutup surat itu dengan “From Your Valentine.” Istilah itu abadi hingga kini.

Versi lain mengisahkan bahwa seorang pendeta yang dihormati, Valentine hidup pada era Kaisar Claudius II. Saat itu Roma selalu terlibat peperangan untuk mempertahankan wilayah atau ekspansi kekuasaan. Tahun demi tahun berlalu, banyak pemuda yang diharuskan mengikuti wajib militer dan terlibat peperangan. Banyak warga Roma yang tidak ingin ikut berperang, suami tidak ingin meninggalkan keluarganya. Pemuda pun enggan jauh dari kekasih hatinya. Melihat hal itu, Caludius II mengeluarkan moratorium yang menghapuskan seluruh pernikahan dan jalinan cinta harus putus saat itu juga.

Valentine sangat menentang kaisar. Saat sepasang muda-mudi mendatangi kuil untuk menikah, diam-diam Valentine mendatangi dan memberkati mereka, yang berarti sepasang kekasih itu secara resmi menikah dalam ajaran Kristen begitupun keyakinan mereka telah berganti. Valentine menjadi sahabat ratusan pasang muda-mudi di Roma, hingga akhirnya telinga kaisar mendengar hal tersebut. Valentine diseret dari tempatnya beribadat, meski banyak orang yang membela dan menginginkan dirinya dilepaskan, namun kaisar tetap keras hati. Dalam penjara bawah tanah, Valentine menderita hingga mati. Teman-temannya yang setia menguburkan jenazah Valentine di gereja St. Praxedes tanggal 14 Februari.

Perayaan hari Saint Valentine dan lotere nama-nama santa berlangsung hingga beberapa abad, namun gereja tidak mampu sepenuhnya menghapus memori Lupercalia dari rakyat Roma. Meskipun gereja telah memberikan dasar-dasar kisah Saint Valentine sebagai ganti ritual Lupercalia. Bahkan gereja Protestan tidak mengenal nama saint tersebut sama sekali, dan sangat sedikit gereja Katolik yang merayakan atau meyakini riwayat Saint Valentine dalam hari “Valentine.” Lotere atau undian dalam tradisi Lupercalia-Valentine kembali digunakan untuk memasang-masangkan muda-mudi di abad ke-15, gereja kemudian berusaha menghidupkan kembali lotere santa sebaga ganti lotere cinta di abad ke-16, namun tidak pernah berhasil.

Di abad ke-19, Paus Gregory XVI menyumbangkan patung Saint Valentine ke Gereja Whitefriar Street Carmelite di Dublin, Irlandia, tempat yang sangat popular bagi para peziarah di tanggal 14 Februari.

Gereja Carmelite, Dublin Irlandia

Upaya gereja Katolik mengganti tradisi Lupercalia dengan Valentine sangat terburu-buru dan mengada-ngada demi mengejar Kristenisasi massal penduduk Roma. Hal ini terlihat dari tidak kuatnya sejarah dan identitas Saint Valentine yang menjadi dasar “Hari Kasih Sayang” tersebut. Kisah-kisah Saint Valentine lebih mirip legenda daripada fakta sejarah.

Hari Valentine yang oleh Paus Gelasius II dimasukkan dalam kalender Gereja, pada tahun 1969 dihapus dari kalender dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal muasal yang jelas. Sebab itu gereja melarang perayaan Valentine oleh ummat Kristiani. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan hari Valentine masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.



sumber forum.muslim-menjawab.com